Friday, March 17, 2017

Sepucuk kisah dari kantor

Kadang, kadang ya.., kadang kita suka sebel sama supervisor sendiri. Bukan sebel secara personal, cuma sebelnya biasanya karena work-related. Karena kerjaan. Supervisornya mah sebenarnya nggak salah.... Meureun. Haha. Kalau lagi begitu, saya sih suka mikir aja... Kita kan dipertemukan sama orang itu pasti ada maksudnya, ya kan. Dan sudah 10 bulan ini saya bekerja sama supervisor yang baru, ada aja cerita menariknya.

Supervisor saya yang sekarang ini pinterrr banget Masha Allah (sapatau bapake baca terus ane naik gaji yekan). Udah gitu pengalamannya di dunia konservasi udah 30 tahun lebih, Bahasa Indonesianya juga udah cas-cis-cus padahal beliau ini Walanda, alias orang Belanda asli. Lahir di S’gravenhage (Den Haag) pula, kota kesukaan saya banget kalau di Belanda. Aduh jadi kangen Belanda. Hehe. Beliau juga Muslim. Meski beliau muslim yang nggak shalat sih…, tapi menurutku beliau punya prinsip hidup yang justru mengikuti kaidah keislaman.

Bagaimanakah caranya sehingga saya bisa tau banget mengenai hidup beliau? Apakah saya kepoin beliau? Engga, dong. Beliau yang banyak cerita dan sharing, terutama kalau kita travel bareng hop on-hop off dari satu meeting ke meeting lainnya. Taksi-taksi blue bird-lah yang menjadi saksi bisu bagaimana saya mendengarkan cerita-cerita beliau yang menurut saya rame. Ya mayanlah. Ya daripada ngomongin kerjaan terus gitu kan ya… asa bosen dan kurang berwarna gitu kan hidup tuh kalau ngomongin kerjaan melulu (sebuah excuse).  

Bapake nggak minum alkohol, nggak ngerokok
Kalau nggak ngerokok mah yaaa sebenernya biasa aja sih haha. Kan banyak juga ya orang yang nggak ngerokok. Tapi hebat yah, buleleng ngga minum alkohol. Baru beberapa tahun ke belakang ini sih bapake nggak minum. Alasannya, “Suatu hari saya pernah liat anak saya kebanyakan minum alkohol, nggak sadarkan diri, kemudian melakukan hal-hal yang aneh. Saya langsung khawatir, jangan-jangan kalau saya minum kebanyakan tuh bentuk saya kayak gitu juga. Akhirnya saya memilih buat nggak minum alkohol lagi, bahkan dengan jumlah yang sedikit. Karena dari sedikit, orang bisa nggak sadar tau-tau minum banyak, terus yaudah sama aja kan jadinya.”

Terus, susah nggak Pak, nolak minum-minum apalagi kan rekan kerja Bapak rata-rata buleleng juga? “Ya susah.. kadang ada aja yang ngelihat saya tuh aneh. Tapi yaudah, saya sih emang udah nggak doyan juga minum alkohol. Jadi ya cuek aja.”. Keren euy Bapake. Ntap.

Ngapain sih takut hantu?
Jadi begini ya readers… (sok asik) kantorku di Bali itu kan lokasinya GHOIB alias susah banget ditemuin. Kalau pesen transportasi online, pasti riweuh karena drivernya selalu bingung “ibuu kantor ibu beloknya di mana yaa?!” padahal kayaknya petunjuknya udah jelas di peta. Heuh.. Iqro dong Pak! Bzzz.

Nah, karena lokasinya yang tertutup itu, konon katanya di bangunan itu ada penunggunya. Yaa sebenernya di manapun pasti ada aja ya. Cuma, belakangan ini emang di kantor tuh sepertinya penunggunya mulai pengen eksis dan diakui....… YHA. Singkat cerita sih mulai banyak tanda-tanda menyeramkan di kantor, sampai saya dan temen kantor saya yang biasa pulang malam jadi agak males buat pulang malem.

Bapake pun sempat curiga kenapa sekarang kayanya kantor cepet banget sepi. Terus dengan bangganya saya cerita dong.. “iya soalnya kantor tuh serem banget you know lately”. Terus responnya dia? Ketawa sambil geleng-geleng kepala seakan-akan jawaban saya tuh konyol-sekonyol-konyolnya. Terus dia bilang “Kamu tuh kan muslim ya. Kamu nggak bisa berharap bakal jadi muslim yang baik kalau kamu masih takut sama yang begituan. Mana bisa.”

 Pemandangan dari depan kantor

Ih seketika saya langsung merasa darojat keimanan saya tuh cuma sekecil upil T___T makasih Bapake udah ngingetin… *salim sama pa haji* *ambil buku ceramah* *minta cap masjid*

Nggak berlebihan dalam makan (berbuka puasa)
Ini yang paling hot-hot-pop karena pembicaraannya tuh baru-baru aja. Suatu hari saya nyeletuk “Wahh sebentar lagi bulan Ramadhan”. Terus beliau bilang… beliau nggak paham kenapa di Bulan Ramadhan justru banyak makanan yang terbuang. “Saya tuh ngamatin ya.. orang tuh puasa, kayaknya cuma nahan lapar aja. Jadi siangnya nggak makan, tapi malamnya, pada rame-rame lah makan di luar dan pesen makan lah sebanyak-banyaknya. Bahkan belum bedug maghrib aja, meja tuh udah penuh sama makanan. Dan itu terjadi selama 30 hari lho, bayangin aja.”

Pas bapake ngomong begitu kan saya langsung bayangin situasi meja makan selama bulan Ramadhan yang……. emang bener sih, reunceum! Alhamdulillah sih banyak makanan, sayangnya emang kadang makanan-makanan itu nggak habis karena dibelinya cuma karena lapar mata. Huft. Noted, Pak. Nanti mah kalau saya puasa, harus kembali ke makna puasa itu sendiri yah. Menahan hawa nafsu. *Sayup-sayup backsound musik gambus di belakang*

Sesebapak dengan bidadari-bidadari (?)

Cerita ini ditulis sebagai upaya memeriahkan blog dan untuk merilekskan suasana aja. Melihat Supervisor dari sisi yang lain. Kalau bahas dari sisi kerjaan mah bukan waktu yang tepat… karena setiap hari juga udah bahas kerjaan sampek berantem karena ini udah weekend! :D

Next mau nulis apa lagi ya… Ada ide?

Tuesday, January 3, 2017

Something new: why not?

Menginjak hari ke-tiga di tahun 2017. Selama dua hari belakangan ini saya memiliki ide-ide gila yang lalu lalang di benak saya: bikin toko kue (padahal bisa baking juga enggak), buka usaha ternak kambing (ini sebenarnya ide usaha suami, tapi entah kenapa saya yang jadi lebih semangat), ngurus usaha rumah makan dan toko rintisan orang tua, sampai mimpi sejak dulu banget yang belum pernah kelakon -- jadi penyiar radio tetap. Yang udah temenan sama saya sejak SMA, pasti tau banget soal keinginan saya yang terakhir. Yang selalu berujung omdo!

Mimpinya banyak dan terkesan muluk-muluk, tapi saya pengen paling engga salah satu dari semua itu tercapai tahun ini. Stepping stone-nya aja dulu, minimal. Khusus untuk bagian ngurus usaha rumah makan orang tua, banyak banget ketakutan dalam diri saya apalagi ibu sangat dominan dalam hal mengurus usaha keluarga. Ibu memang memiliki pengalaman berwirausaha yang tak terbantahkan: 27 tahun mengelola usaha toko, rumah makan, butik jahit, catering partai besar, warung tegal untuk mahasiswa, dan masih banyak lagi usaha ibu yang kalau diurus dengan baik pasti sudah menjadi mega-usaha (bahasa naon yeuh mega-usaha), atau paling tidak toko ibu sudah tersebar di banyak titik di pulau Jawa, menjadi saingan berat bagi Indom*ret atau A*famart. Ibu juga sudah mengalami pasang surut ekonomi dan niaga, terutama pada saat krisis moneter, merupakan momen yang tak terlupakan bagi Ibu dan Bapak.

Saya yakin sekali, usaha Ibu selama 27 tahun menumbuhkan bisnis yang memikirkan rakyat kecil, masih memiliki kesempatan dan kemungkinan untuk berhasil. Terakhir kali saya bertemu Ibu, raut wajahnya sudah lemah namun ambisinya untuk berwirausaha masih kuat. Kulit ibu sudah mulai berkerut, tapi semangatnya untuk terus memikirkan orang banyak seakan tidak pernah surut.

"There's always a first time to everyone for everything"

Saya selalu inget teman saya, Rd. Shenandoah Annisaputri (Shenda) pernah bicara kepada saya mengenai quote di atas ketika kami masih sama-sama duduk di bangku SMP. SMP. Seragam putih biru. Bagi saya saat itu, kalimat tersebut tidak banyak berarti. Lain halnya dengan sekarang, Saya mau mengalami first time itu tahun ini. Meski tak dipungkiri saya sering beradu pendapat dengan Ibu, namun saat ini saya mau mencontoh semangat Ibu untuk merasakan sesuatu yang baru tahun ini :)

Cheers,
Laras

Tuesday, January 19, 2016

Review Gedung Pernikahan di Jakarta

Sebenarnya saya udah janji mau melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai kesan dan cerita-cerita saya terhadap tahun 2015. Ternyata ada hal lain yang ingin saya tuliskan sebelum saya lupa: I'm getting married! Menikah adalah salah satu dari tiga goal yang saya harapkan bisa terwujud di tahun 2014. Apa mau dikata, 2 tahun lalu ternyata belum ketemu jodohnya. Hehe. Alhamdulillah saya bersyukur banget waktu akhirnya Mas sapaan untuk calonku mulai tergerak untuk melanjutkan hubungan ke tahap yang lebih.......... menantang.

Dimulailah kehidupan Bridezilla saat kedua belah pihak keluarga mulai menentukan tanggal ini dan itu. Kalau orang bilang merencanakan pernikahan akan banyak selisih paham, saya setuju! Tapi, hal ini menurut saya sih wajar aja ya karena menikah memang menyatukan lebih dari dua isi kepala. Alhamdulillah untuk konsep dan ritual dalam pernikahan, (keluarga) saya dan (keluarga) Mas nggak banyak berbeda pendapat. PENTING: Tentukan dulu dream wedding kamu seperti apa, kemudian bicarakan dengan pasangan. Tugas masing-masing CPP (Calon pengantin pria) dan CPW (Calon pengantin wanita) untuk mengkomunikasikan ke keluarganya.

Setelah menentukan tanggal, yang pertama harus dilakukan adalah mencari gedung. Kali ini, saya mau mengulas gedung-gedung incaran saya dan Mas. Karena in shaa Allah akan menikah di Jakarta, tentunya gedung yang akan dibahas juga bertempat di Jakarta.
Kenapa hanya 5 gedung yang dibahas? Saya dan Mas sepakat untuk tidak mensurvey lebih dari 5 gedung. Hal ini untuk mengurangi kebingungan dan supaya lebih fokus aja.
Kenapa yang dipilih adalah gedung-gedung seperti di bawah? Semua adalah gedung yang kami suka, pun kedua orang tua kami. Mas, lebih menitikberatkan pada keleluasaan tempat parkir. Sementara saya, sangat memikirkan lokasi venue yang sebaiknya dekat dengan hotel supaya mobilisasi keluarga besar nggak repot. Sekali lagi, gedung yang dipilih memang berdasarkan kebutuhan, keinginan, dan ketersediaan tanggal yang kami inginkan *poin yang terakhirrrrr sangatlah menentukan*.

Berikut nama-nama gedung tersebut:

1. Gedung Kementrian Keuangan Dhanapala - Jakarta Pusat
PLUS
  • Gedungnya luas. Bisa menampung hingga 2000 orang. Kalau ternyata jumlah tamu yang diinginkan mencapai 3000, jangan khawatir karena Dhanapala punya 'sayap' gedung yang bisa dibuka sehingga mengurangi kepadatan dan suasana sesak.
  • Tempat parkirnya luas. Mas hatinya senang banget waktu survey Dhanapala. Gimanapun, ketersediaan parkir sangat menentukan, lho. Waktu itu Mas pernah dateng ke nikahan temen dan udah muter 3x tetep aja nggak dapet parkir, yaudah deh kami memutuskan buat cabut. Udah lemes duluan badannya :')
  • Marketingnya baik. Sigap sih, meski saklek banget nggak bisa ditawar-tawar. Apa saya yang kurang jago ya? :P
  • Catering rekanannya bagus-bagus. Saya, mama, dan Ibu, sudah seiya-sekata soal catering yg akan dipilih. Ternyata catering pilihan kami (sebut saja Catering A-Z :P) ada di dalam daftar rekanan catering Gedung Dhanapala.
  • Interior gedung sudah bagus. Full karpet, ada chandelier-nya. Dindingnya juga classy. Ini penting! Gedung yang sudah bagus biasanya bisa mengurangi pengeluaran dekorasi (keep in mind, dekorasi habisnya bisa 80-100juta. Pusing pala berbik kan)
  • Gedung sudah lengkap dengan fasilitas 4 kamar rias, toilet, musholla, pantry yang luas.
     MINUS
  • Lokasinya di Jakarta Pusat. Ini subjektif ya. Saya lebih sering main di kawasan Jakarta Selatan, jadi lebih suka sama daerah JakSel. Kalau menurut Mas, justru ini faktor PLUS karena lokasinya yang dekat dengan stasiun. Hmmmm bener juga sih.
  • Pilihan hotel yang kurang oke di sekitar gedung. Sekali lagi, ini juga subjektif ya. Keluarga besarku akan datang dari Jogja-Solo dan tentunya saya ingin memberikan kenyamanan untuk mereka. Ada 3 hotel di sekitar gedung: Hotel Oasis Amir - Ibu nggak cocok sama hotel ini, Hotel Lumire - sudah disurvey dan sepertinya termasuk hotel lama yang lumayan tidak terurus ya kalau dilihat penampakannya dari luar. Kedua hotel tadi, ketika dilihat reviewnya di booking.com, Agoda, pegipegi dll juga menunjukkan kualitas yg biasa aja bahkan cenderung mengecewakan. Hotel Borobudur - gak masuk budget :')
 Sebagai info tambahan, untuk menggunakan dekor non rekanan dikenakan biaya tambahan dan biaya jaminan (lupa angkanya), sementara untuk menggunakan fotografer non rekanan dikenakan biaya tambahan 4 juta rupiah.
 
2. Gedung Madira Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah - Jakarta Timur
Untuk gedung ini, saya dan Mas belum sempet survey sama sekali. Kami sudah patah arang duluan saat menelpon dan dikonfirmasi bahwa gedung Madira sudah penuh sampai akhir tahun 2016. Gedung ini sempat kamu lirik meski kapasitasnya hanya 1200-an orang, namun desain gedung yang "njawani" banget bikin saya termehek-mehek.

3. Puri Ardhya Garini
Nasibnya sama dengan Madira Sasana Kriya TMII. Puri Ardhya Garini sudah full-booked bahkan sampai pertengahan tahun 2017. Untuk weekend ya. Saya dan Mas pernah beberapa kali menghadiri pernikahan di gedung ini dan memang sih, sebenarnya Puri Ardhya Garini ini suasana di dalamnya lumayan oke, namun Mas kurang suka dengan lokasinya yang di Cawang. Ya Mas? *sodorin mic ke Mas*

4. Birawa Hall Bidakara - Jakarta Selatan
Ini adalah gedung pilihan aku dan Ibu sejak awal diputuskan tanggalnya. Selidik punya selidik, ada beberapa hal yang masih menjadi ganjalan antara aku dan mas:
PLUS
  • Lokasi di Jakarta Selatan. Siapa sih yang nggak pernah datang ke pernikahan di Bidakara? Ya, ada aja sih tapi kan sebagian besar Jakartans minimal sudah pernah lewat gedung ini.
  • Gedung sudah sepaket dengan catering dan hotel. Bayangkaaaan begitu indahnya dunia ini jika ketiga vendor tersebut bisa dipegang oleh satu pihak yang sama. Bahagianyaaa hidup inii *pijet2 kepala* Penginapan yang dekat dengan venue juga akan sangat memudahkan anggota keluarga besar (terutama yang sepuh) untuk datang ke acara pernikahan. Jumlah vendor yang sedikit juga meminimalisasi komunikasi dengan banyaknya orang.
  • Marketingnya baik banget. Pelayanannya sama banget kayak banquet hotel (yaelah emang banquet hotel kali Ras...) jadi sangat profesional dan ramah. Helpful banget :)
  • Birawa Hall memiliki kapasitas yang lebih besar daripada Binakarna Hall.

MINUS
  • Ada dua Hall di dalam Bidakara: Binakarna dan Birawa. Dalam hal ini, Mas khawatir tamu akan salah masuk Hall. Hmmm. Iya, bisa.
  • Tidak bisa memilih catering. Harus pakai catering Hotel. Di satu sisi, enak sih praktis. Di sisi lain, sedih juga ya nggak bisa punya pilihan catering. Katanya sih, dulu-dulu sempet boleh pakai catering luar untuk pernikahan di Bidakara. Sejak tahun 2016 ini sudah sama sekali nggak boleh.
  • Parkirnya susah. Mas sangat concern sama hal ini. Mungkin karena seringkali Mas yang nyetir dan muter-muter nyari parkir kalau kami mau kondangan :')

5. Panti Prajurit Balai Sudirman - Jakarta Selatan
Opsi gedung kelima ini muncul karena..... yaudahlah biar genap aja jadi 5 gedung. Sebenarnya, Ibu sudah sangat tidak setuju dengan pemakaian gedung ini, begitupun Mas. Parkirnya mbleber-mbleber ke jalan raya. Nggak mau kan disumpahin orang gara-gara bikin macet jalanan Jakarta (yang udah macet).


At the end of the day, pemilihan tanggal pernikahan memang akan sangat bergantung pada ketersediaan gedung. Dulu saya nggak percaya sama hal ini, sekarang saya percaya. Hehe. Tanggal pernikahan saya terpaksa bergeser satu minggu dari tanggal yang sudah ditentukan. Persaingan mencari gedung di Jakarta memang super kerasss. Semoga tulisan ini cukup membantu dalam memberikan pertimbangan. Good luck ya buat para Bridezilla! ;)

Tuesday, December 15, 2015

What 2015 brought me: Job

** early warning: I probably write this post in duo-lingo (mixing Bahasa Indonesia and English), so please hold yourself back from giving negative comments :P

First, 2016 is just around the corner. It's important to realizing such things like that: you will see how you've become, how far you've walked, how many times you've went through ups and downs. How many times precisely you let yourself down, and how many times (still, precisely) you dare yourself to get up. To summarize 2015, I am personally not very happy with my achievement in this year but I am blessed that I still have my family and boyfie - soon to be fiance. But frankly, I thought 2015 was a struggle.

I struggle on finding JOB
I started 2015 with a family holiday to Gili Trawangan - Lombok and everything was perfect. I finished my part time job as a research translator in December 2014 and I decided to enjoy my lay-lo time. I expected a job offer at one of the famous NGO in conservation because I successfully selected until interview. "OK, one more baby step until I got accepted" ...... but life doesn't work that way. I heard someone has successfully pass the interview test and he's surely the lucky one, and I was the fail one.

My heart felt like falling from the highest skyscraper, simply because expectation is the root of all heartache. I felt disappointed but I started to apply for another position in different company. It was January 2015. And then February 2015 came. And then March 2015. Still no response from any company, at all. There was not much bad feelings in my head, until I met my boyfie's aunt.

Her: What do you do at the moment?
Me: Nothing. Waiting for a job call. Send some CVs.
Her: And staying at home? Only that?

Nyeh. My life was torn apart. It was not her fault to be curious about my life, but it was not my fault as well that I didn't get selected in any of companies I applied. I did revise my CV. I corrected all typo and grammar error. I did everything. So I cried at night and I pray. And Allah is just too kind. 3 days after that, I got an e-mail offering me a job in Jakarta as a Project Coordinator. I WAS SUPER HAPPY. **moral of the story: believe in the power of prayers** but the program manager said "this is only 5 months of work", but I still take it.

And the job story began....

(to be cont'd)