Saturday, March 31, 2012

(Datang ke) Undangan Pernikahan

Datang ke undangan pernikahan itu malesin. Stereotype itu dulu selalu muncul di benak saya saat diajak ke kondangan sama Bapak atau Ibu. Kenapa malesin? Karena bingung mau datang pake baju apa, sepatu apa, rambut mau diapain, belum lagi harus ketemu orang-orang yang saya ngga kenal. Groar.

But things are changing waktu saya masuk ke LSS (Lingkung Seni Sunda) ITB, dimana kekeluargaan yang terasa di dalam organisasi tersebut sangat erat. Saya, mahasiswa angkatan 2007, bisa kenal sama kakak dan adik angkatan (dari berbagai macam jurusan, serius) mulai dari angkatan 2010 sampai 2000. Bahkan nama-nama alumni tahun 1999, 1998 pun saya familiar (meski belum pernah ketemu langsung).

Waktu masih di tingkat 1 perkuliahan, datang ke undangan pernikahan itu ngga perlu nunggu teman seangkatan di jurusan untuk menikah. Kalau ada kakak angkatan di LSS yang menikah, warga LSS semua diundang. Kebayang dong, dalam setahun bisa jadi ada 2 sampai 3 yang bisa saya hadiri pernikahannya (karena diadakan di Bandung). Dari situ, saya mulai terbiasa untuk menyiapkan batik yang memang biasa saya gunakan untuk datang ke kondangan. Ini merupakan prestasi buat saya, mengingat saya pada saat itu lebih seneng pake kaos daripada baju-baju formal, atau dress. Sepatu yang jadi modal saat itu masih flat shoes. Belum kepikiran deh pake high heels. Dan karena saya datang sebagai adik angkatan (yang masih menyandang status mahasiswa, baru pula), bebas bagi saya untuk datang tanpa nyecep! :P

Sekarang ini mulai kerasa, saat saya udah lulus kuliah sejak Oktober lalu, undangan mulai berdatangan dari kerabat dekat. Wah, alhamdulillah sudah menemukan separuh sayapnya ya kawan-kawanku ini :') Sekarang dandannya udah lebih all out, pake dress, high heels, muka ditotolin eye shadow sampai blush on dan lipstik, dan sudah mulai merasa bahwa tas pesta itu urgent ya ternyata (!)

Belum lama ini saya menghadiri pernikahan sahabat SMP saya, Adis. Adis menikah di usianya yang cukup muda (bahkan sama dengan saya), 22 tahun. Karena lokasi pernikahannya cukup jauh (di Jogja), saya belum bisa memastikan akan datang atau engga. Tapi setelah 'diancam' dengan kiriman kain bahan seragam pernikahan, langsunglah saya confirm hadir. Menghubungi teman SMP saya yang lain, Dhisa, saya bertanya via BBM:

Saya (S): Dhis, dateng kan ke nikahan Adis?
Dhisa (D): Iya, katanya dia mau kirim seragam lho.
S: Hooh. Lagian udah lama ngga ketemu juga, masa' kita ngga dateng
D: Iya.
D: Eh, kamu mau nyumbang berapa di nikahan Adis nanti?
S: *freeze*

Wahaha, ini dia yang selama ini saya lewatkan: nyecep! Dan tiba waktunya saya harus nyumbang, jrekjreknong! Bingung deh nominalnya mau berapa nih, takut ngga pantes kalo jumlahnya hanya sekian, blablablabla... Akhirnya saya dan Dhisa sepakat pada satu angka yang menurut kami cukup. Lucu deh, baru kali ini kepikiran kalo datang ke undangan langsung bingung mau nyecep berapa atas nama pribadi, huhu...

Selang beberapa minggu kemudian, saya menghadiri pernikahan Teh Uchie dan Kang Budi, keduanya adalah senior saya di LSS ITB. Tebak? Ya, saya lagi-lagi lupa membawa cecepan itu, karena asumsi bahwa saya masih junior mereka (padahal kan saya udah bukan mahasiswa lagi, zzz). Gak apa, yang penting sudah salaman sama mantennya, dan nggak lupa nyicip menu jamuannya :D

No comments:

Post a Comment