Tuesday, April 3, 2012

Pilih Hitler atau Jadi Inlander?


Kemarin, teman saya melotot dan marah banget saat tau saya akan mengenyam kuliah master di Belanda.

Diskusi diawali dengan ucapan selamat saya karena ybs. mendapatkan beasiswa AMINEF untuk program Ph.D, saya kemudian bertanya-tanya mengenai kuliah di luar negeri, khususnya Eropa. Dia menyarankan satu negara.

"Kenapa Jerman? Di Jerman rasis nggak sih Teh?"
"Rasis mah dimana-mana juga ada. Coba kamu cari informasi tuition fee di Jerman. Kaget deh."

Sigap, saya segera mencarinya. Meski sulit -- web universitas di Jerman sangat tidak english-language-user-friendly -- tapi saya menemukan infonya. Kuliah di Jerman (saya ambil contoh di Bremen University), baik untuk foreigner atau bukan, biayanya hanya € 242 per semesternya. Ambil kurs Euro termahal, Rp 12.000, kurang lebih biayanya hanya Rp 2.900.000 / semester. Gilak. Itu sih hampir sama (banget) dengan harga kuliah di institut Indonesia. Sementara di Belanda, saya bisa kena 100x lipatnya (untuk kampus di kawasan desa, bukan di kota).

Ada yang bisa menganalisis, kenapa negara republik federal dengan sistem demokrasi parlementer ini bisa mengetuk palu harga kuliah yang sama bagi penduduk lokal dan asing? Pun, harga tersebut masih tergolong sangat murah untuk jenjang master. Adanya subsidi untuk pendidikan?

3 comments:

  1. dulu si papa pernah cerita di jerman subsidi pendidikan nya emang jahat, gede pisun. makanya di sono semua warganya mendapatkan pendidikan sebagaimana mestinya dan pararinter. tapi ya itu, pajak penghasilannya juga ikut-ikutan luar biasa besarnya

    ReplyDelete
  2. Oh gitu. Sip deh nanti gue ngga akan kerja di sana. *YOU DON'T SAY MEME*

    ReplyDelete
  3. Jadi kalo kuliah di jerman kalo kerja di walanda? di Indonesia cari jodoh. fix.

    ReplyDelete