Saturday, April 7, 2012

Simple Joy


Udah lama banget deh, saya aja hampir lupa kapan tapi kayaknya sih tahun lalu. Salah satu temen di bbm contact saya, melempar topik pembicaraan di group:

"Tadi pagi saya main ke mesjid dekat rumah. Mungkin karena saya selama ini sibuk di kampus, jadi nggak tahu keadaan di sekitar rumah sendiri. Mesjid itu ternyata nggak punya keranda mayat. Saya berinisiatif ngebeliin, karena itu kan penting untuk kegiatan mesjid. Kalau ada temen-temen yang mau bantu, boleh nyumbang berapa aja juga diterima. Semoga jadi amal ibadah temen-temen semua."

Saat itu saya yang nggak-peduli-deh-ada-uang-atau-enggak di dompet, langsung japri ke temen saya itu dan minta ketemuan untuk menindaklanjuti ajakannya di group. Enggak banyak yang saya kasih. Serius, saat itu saya kere parah. Saya kemudian mikir pasrah aja, Ya Tuhan berapapun harga keranda itu moga-moga kontribusi saya ini cukup berarti.

Gak lama (kayaknya semingguan kurang), ternyata kerandanya udah kebeli. Entah gimana temen aku itu berusaha ngumpulin uang dari temen-temennya, seorang diri. Bahkan dia ngirim foto struk pembelian keranda itu untuk bukti bagi kami yang ikut menyisihkan uang. Harganya berapa juta, saya lupa persisnya.

Keren. Saya mengapresiasi usaha temen saya ini. Berawal dari iseng main ke mesjid, ngobrol ringan, kemudian memberikan kontribusi nyata buat lingkungan. Masih, dengan status mahasiswa. Buat sebagian orang mungkin uang seribu-dua ribu apalah artinya. Tapi di saat yang bersamaan, itu simple joy bagi mereka yang membutuhkan.

Unconsciously, semua itu kembali ke kita tanpa kita sadari dan berlipat ganda.
Beberapa saat setelah kejadian itu, saya adalah mahasiswi yang menghadapi hidup dengan optimis *halah*. Carut marut kehidupan, belum lagi kesibukan saya latihan pagelaran, nganterin kakak kontrol ke dokter, ngasistenin praktikum, bimbingan, ngerjain TA, nulis skripsi....... *yak, disini anda melihat singa ngamuk*
Lalu di akhir bulan itu saya harus membayar tagihan analisis di laboratorium tetangga. Tuhan....

Melangkah pasti dong ya saya ke dalam ruang administrasi dan keuangan. Kata AFI juga percayalah pada diri dengan harapan dan keyakinan.

"Ibu, berapa ya biaya analisisnya?"
*ybs menyebutkan nominal di ambang batas kewajaran* *pingsan*
"Hmmm. Memang sangat mahal Dek. Sebentar ya kalau begitu."
Ibu itu kemudian menelpon entah-siapa yang sepertinya sih atasan beliau. Lalu...
"Dek, kamu dapat potongan 4 juta."

Udah nggak harus digambarin lagi deh senengnya kayak gimana. Belum lagi ternyata seminggu kemudian hasil analisis TA-ku keluar. Masa depan gemilang menanti. Oktober di Sabuga bukan impian lagi. Saya percaya ini rejeki, salah satunya karena dapat kesempatan berbagi :)

No comments:

Post a Comment