Thursday, June 12, 2014

Mendarat di Kopenhagen / København / Copenhagen

Agak terlambat dari janji saya waktu itu buat melanjutkan tulisan mengenai København atau yang biasa ditulis dalam Bahasa Inggris: Copenhagen. Tulisan aslinya memang København, untuk memaknai kota yang identik dengan pelabuhan itu. Cara membacanya yaitu kou-ben-haa-ven (Saya juga baru tau setelah menginjakkan kaki di kota tersebut :P)

Setelah dari pemeriksaan yang ra uwis-uwis tadi, akhirnya kami serombongan diberangkatkan lagi menuju Denmark. Bis harus menyeberang dengan menggunakan kapal dan penumpang dipersilakan turun. Yang terbayang adalah pedagang popmie dan ale-ale -- iya kami kan lapar banget gitu ceritanya pemirsa. Sayangnya, yang disediakan adalah makanan sejenis kentang goreng, fillet ikan, fillet ayam, spaghetti, atau goulash soup dengan harga sekitar 8 - 12 Euro. Haish. Engga ada pilihan lagi, akhirnya ya dibeli juga.

Perjalanan saya di København hanya sehari. Waktu yang saya pakai di bawah adalah waktu CEST (Central European Summer Time) ya. Ini dia detilnya:
29 Mei 2014, pukul 06.30 saya berangkat dari Den Haag CS, sampai København H pukul 22.30
30 Mei 2014, saya dan teman-teman berjalan-jalan seharian penuh sampai betis hampir pecah
31 Mei 2013, pukul 08.30 kami pulang dari pangkalan bis København H, sampai Den Haag CS pukul 22.00

Oh, waktu masih di Belanda, saya sempatkan buat nyari rute ini. Kalau mau bepergian, saya selalu in advance mencari rute minimal untuk sampai ke penginapan, dengan anggapan nggak bakal ketemu internet kecuali saat udah sampai hotel. Dan bener aja, nggak ada sinyal wi-fi yang ketangkep di jalan raya. Nah, pangkalan bis di København H ini sebenarnya letaknya nggak jauh dari stasiun (kereta)nya. Menurut informasi yang saya dapet, dari pangkalan bis ini butuh waktu sekitar 17 menit berjalan kaki menuju stasiun København H. Sayangnya karena hari udah mulai gelap (baca: kami udah capek dan engga punya koneksi internet), akhirnya saat turun dari bis, saya coba buat ngejar Mbak Heti lagi.

Saya: Hi, Heti. Maaf ya saya mau nanya. Kamu lagi buru-buru ya?
Heti: Engga, kok. Ada apa?
Saya: Kamu tau København H di mana?
Heti: Sebenarnya nggak jauh. Kita cuma butuh jalan sebentar. Aku juga menuju ke sana, kita bisa jalan bareng kalau kamu mau.


Stasiun København H


Sumringah dong saya seketika. Saya panggilin temen-temen dan kami berjalan agak cepat dan kepayahan, karena Heti kakinya panjang dan langkahnya besar banget. Ternyata.... *jengjengjeng* stasiunnya itu tinggal nyeberang doang dari pangkalan bis. Mak. Hihhhhh google maps lebay!





Clip Card untuk zona tengah kota


Kebingungan nggak berhenti di situ karena kami nggak tau harus naik kereta yang mana untuk sampai di hotel kami, Cabinn Metro Copenhagen. Heti cuma berpesan sama kami untukbeli Clip Card di Seven Eleven (yes, there ARE lots of Seven Eleven there in Copenhagen). Clip Card ini bisa dipakai untuk naik kereta dan bis, dengn aturan 1 kali jepret = 1 orang untuk pemakaian dalam 1 jam. Harganya nggak begitu mahal, 150 DKK (Danish Krone) untuk 1 Clip Card yang bisa dipakai untuk 10 kali jepret. Sayang banget kami engga sempet foto sama Heti karena dese juga buru-buru ngejar bis.





 Setelah membeli Clip Card, kami langsung mencari kereta yang akan kami pakai. Untungnya, sistem kereta api di Eropa ini nggak jauh beda. Rata-rata mudah dibaca asalkan punya petanya. Jam keberangkatan dan jalurnya pun tepat sesuai yang ada di layar masing-masing peron. Berangkatlah kami menuju Cabinn Metro Copenhagen yang ternyata letaknya ada di seberang Stasiun Örestad. Ya, agak ketutupan mall yang bernama "Field's", tapi lumayan mudah dicari karena alhamdulillah kami punya alamatnya. Ini satu lagi yang penting kalau mau bepergian: catat/print itinerary hotel, lengkap dengan nama, alamat, nomer telepon, dan alamat e-mail penginapan.


Hotel yang kami inapi ternyata interiornya lumayan luas dan menurut kami sih pas di hati (naon). Kami sangat puas dengan harga, pelayanan, ketersediaan pemanas air, sabun, shampo, handuk mandi, air panas untuk mandi, dan kasurnya juga nyaman (bukan yang sembarang kasur tapi bikin pegel gitu, maksudnya). Kami memesan Family Room dengan komposisi kasur bertingkat.


Untuk bertahan hidup tanpa harus menyiksa isi dompet, kami sengaja membawa banyak makanan dari Belanda. Kami membawa 8 mie instan gelas dan 4 buah mie instan plastik (iya, kami sarapan mie melulu selama di sana *hehe baik-baik ya usus*). Selain itu, kami juga membawa 2 sisir pisang dan 1 kantung jeruk. Juga, 1 plastik roti lengkap dengan meses. Air minum bisa ambil dari tap water, yang penting jangan lupa bawa botol minum. *tips emak-emak*

Inti perjalanan kayaknya akan muncul di postingan berikutnya. Bersambung lagi boleh ya, takut kepanjangan. Ikan hiu lima meter, see you later!


Wageningen, 12 Juni 2014


No comments:

Post a Comment