Saturday, June 7, 2014

Menuju København


Menginjakkan kaki di tanah Skandinavia. Waktu itu sih cita-citanya hanya sependek itu. Nggak kebayang gimana caranya bakal bertahan hidup di sana, mau ke negara mana, kayak apa bentuk ibu kotanya. Pokoknya semua direncanakan secara mendadak dan Alhamdulillah, akhirnya saya dan teman-teman bisa sampai di Copenhagen, Denmark pada tanggal 29 Mei 2014 malam hari.

Kami menempuh perjalanan darat dengan menggunakan Bis Eurolines. Eurolines ini salah satu moda transportasi termurah di Eropa ya... jadi pas banget buat kami para mahasiswa yang ingin bertahan hidup sambil berjalan-jalan di akhir bulan. Perjalanan dari Den Haag (Belanda) menuju Copenhagen (Denmark) ditempuh selama 14,5 jam. Iya, saudara-saudara sekalian... 14,5 jam. Ini udah meleset 1,5 jam dari perkiraan kami. Estimasi lama perjalanan hanya sekitar 13 jam, sayangnya bis kami dicegat untuk pemeriksaan imigrasi di sebuah kota di Jerman yang kami bahkan nggak tau itu di daerah mana.

Pemeriksaan paspor seperti ini sebenarnya udah sering banget terjadi, tapi ini adalah kali pertama saya pakai bis untuk perjalanan lintas negara. Biasanya saya pakai kereta, dan pemeriksaan dilakukan di kursi kayak biasa aja.. Kondekturnya cuma muter-muter nanya tiket sama verblijf (resident permit) dan sesekali paspor. Tapi emang kalau mau ngelewatin Jerman, eugh... pemeriksaannya selalu ketattt seketat celana jins saiful jamil.

Dan bener aja, pemeriksaan imigrasi kemarin dilakukan di sebuah gudang di belakang McDonalds yang sepertinya sih itu dekat pom bensin juga. Aduh beneran deh saya juga ngga ngerti itu di mana, jadi kayaknya emang itu sengaja buat menjebak orang-orang yang mencurigakan. Saya sama temen-temen ya nggak tegang sama sekali, karena kami yakin kami nggak ada kesalahan apa-apa. Ya kan...


Liat aja, malah foto-foto
"You four girls sitting at the back seat, you may go downstairs for passport check.", ujar mas-mas polisi Jerman yang kumisan dan badannya gede abis. *njengkang* Dan dari sekian jamaah yang ada di bis, cuma kita berempat yang ditunjuk. Deg. Ma-tik. Ada apa ini.

Yasudah lahya, dengan segala kepasrahan kami turun ke sebuah gudang kecil yang ternyataaaa di dalamnya ada mesin X-Ray, meja pemeriksaan, meja telepon, 4-5 staff imigrasi (yang lagi-lagi, badannya tinggi besar) dan lain-lain lengkap untuk keperluan pemeriksaan pelaku kejahatan, huhu tulung. Sungguh ya padahal dari luar itu hanya kayak ruangan biasa. Akhirnya kami berempat diperiksa dan alhamdulillah semua berjalan lancar. Ternyata satu per satu isi penumpang dari dalam bus juga diminta turun untuk pemeriksaan. *YES, bagus pak! bagus!* *caritemen*

Kebayang dong yaaaaaaa jadi harus berapa lama kami ngendon di gudang-pemeriksaan-yang-lokasinya-entah-dimana itu? Ditambah lagi kami lapar berat. Eurolines bukan P.O. Budiman atau Kramat Djati yang sering berhenti di tempat pemberhentian, jadi perbekalan kami pun mulai menipis seiring perkembangan zaman berjalannya waktu dan kami mulai butuh makanan yang serius dan bukan angin doang *dilempar pilus*. Ada kayaknya sekitar 1 jam lebih kami geje dan nggak tau harus ngapain sambil nunggu pemeriksaan penumpang lain. Sampai ada penumpang yang ikut sikat gigi dan cuci muka dong di samping meja imigrasi (*jengjeng!*) saking kelamaannya mungkin ya.

Kemudian saya coba SKSD aja sama salah satu penumpang cewek yang kayaknya dari Belanda juga. Ini biar ada temen ngobrol aja sih sebenarnya....... berhubung udah bosen ngobrol sama temen yang bertiga tadi, hih. *dipentung* Ternyata dia adalah mahasiswa S1 yang mau ngelanjutin kuliah master di Denmark, dan sudah berkali-kali ke Denmark. Namanya Heti (sebenernya ngasal banget ini nulisnya, bisa jadi Haytey, Hetty, Hatey, h3T!,.. jadi yasudah kita Indonesiakan aja nama si mbak). Dan ternyataaa pertemuan dengan Mbak Heti ini merupakan awal yang baik selama perjalanan kami kemarin. Hihi.

Segini dulu ya, nanti dilanjut lagi. In shaa Allah Selasa akan saya tulis lanjutannya. Selamat berakhir pekan! :)




No comments:

Post a Comment