Friday, December 5, 2014

Pulang ke Indonesia



Merasa berdosa (dan kangen!) banget karena udah lama nggak nulis di blog. Saya udah sampai lagi di Indonesia dengan selamat, sejak tanggal 26 Agustus 2014. Alhamdulillah.. pokoknya kalau udah nemu asap rokok kretek, toilet umum yang becek, dan macet, then I am home. Hihi. Saya sempet galau waktu mau pulang.

Saksi mata waktu presentasi akhir. Makasih tetangga kesayangankuh! :*

Pakai pesawat apa ya… (sok-sokan, kayak uangnya banyak aja. Kalau rezeki sih banyak yaa AAMIIN :D) akhirnya pilihan jatuh pada Garuda Indonesia. Pertimbangannya banyak banget, berikut poin-poin yang saya jadikan pertimbangan sesuai urutan *ribet bener nek..*:
  
Harga, Jadwal transit, Kapasitas bagasi, Jadwal penerbangan, dan Maskapainya.

Sebagai calon emak-emak yang ekonomis ya, tentu maunya tiket pulang yang paling murah dan paling menguntungkan. Saya hanya akan melakukan one-way trip ke Jakarta, yang mana harga tiketnya biasanya berkisar 500-700 euro pada saat high season (saya pulang di musim summer yang juga merupakan high season). Oke, mari dibuka aplikasi sky scanner-nya kalau begitu…

Note: Sky scanner merupakan situs di mana temen-temen bisa mencari tiket dengan variasi harga yang beragam. Sky scanner ini kayaknya bekerja sama dengan website-website penjualan tiket pesawat, termasuk official website maskapai penerbangan. Hari gini nggak tau Sky Scanner? My oh my. (Berasa lagi jadi SPG tapi nyolot style)

Setelah memasukkan tanggal yang saya inginkan, muncul beberapa pilihan maskapai yang beroperasi. Daftar pilihan disajikan mulai dari harga termurah hingga harga termahal. Urutan paling atas ditempati oleh… *jengjeng* Malaysia Airlines! Dengan harga 392 euro saja, dikabarkan saya bisa terbang sampai Indonesia. Wah murah banget kan. Udah mau beli, kemudian telp emak.

“Ibu, aku mau beli tiket pesawat ya.”
“Iya, yang murah aja ya Kak.”
“Iya, yang paling murah adanya MAS bu”
“Ih jangan kalau MAS mah ibu nggak kasih ya Kak”

Yah.. yaudah atuh gimana. Sebagai penganut #DOAIBU garis keras, akhirnya saya batal pakai MAS. Mungkin Ibu khawatir kalau saya kenapa-kenapa. Ya udah, saya juga seneng-seneng aja, YES! Akhirnya bisa pakai pesawat yang agak mahalan dikit. (mental Hagemaru)

Setelah dilihat lagi, Garuda Indonesia ternyata menempati urutan nomer dua. Memasang harga 480 Euro, GIA memastikan kalau saya bisa terbang DIRECT dari Amsterdam Schiphol Airport ke Bandara Cengkareng Jakarta. “Wah seru ya kalau direct jadi nggak perlu turun-turun dari pesawat yakan yakan yakan..”, ujar Si Malas.

Akhirnya pulang juga ya mak :P

Saya udah beberapa kali naik pesawat ke Belanda, di antaranya: KLM, Cathay Pacific, Turkish Airlines, dan Emirates. SEMUANYA TRANSIT dan transfer pesawat. Eh, Turkish Airlines sama KLM nggak transfer pesawat ding, tapi tetep aja harus turun dari pesawat dan kembali mengantri untuk memasuki pesawat lagi. (Jangan lupa ya ada proses X-Ray yang mengharuskan kamu, iya, kamu, untuk melepas rindu jaket, jam tangan, dan mengeluarkan laptop. Proses yang sangat ribet apalagi kalau kamu bawa laptop DUA dan kamu juga bawa tablet. *postingan riya’*)

Okay, poin satu terlewati yah, harga lumayan lah masih under 500 Euro. Poin dua terlewati, jadwal transitnya nggak ngeselin alias ngga ada transit sama sekali HALO~~ di era globalisasi ini masih transit?! (rada teu nyambung). Poin ketiga nih yang agak tricky: Bagasi. (Ada di postingan saya setelah ini). Pada akhirnya saya memilih naik Garuda Indonesia, dengan pertimbangan bagasinya yang mencapai 40 kg untuk mahasiswa Indonesia. Jadwal terbang juga nggak jadi masalah, karena penerbangannya normal (take off jam 14.00 kalau nggak salah). Dan jelas, rasanya bangga yah kalau bisa naik maskapai penerbangan dari negara sendiri :)

Lebih seneng lagi, ternyata saya terbang nggak sendiri. Ada beberapa teman saya dari Leiden yang juga ikut terbang hari itu: Jajang dan Vando. Meski kami terpisah kursi, tapi kami tetap bersama waktu harap-harap cemas nunggu bagasi dan nunggu dijemput. Sesaat sebelum berangkat, saya juga diantar sama teman-teman saya di Wageningen dan keluarga Santosa dari Delft. Sungguh sedih rasanya, is this really the end of my journey in The Netherlands? :(

My last sleepover at Mumtaz's place

But 13 hours direct flight was a truly experience. Ini merupakan pertama kalinya saya terbang long-haul-flight dengan jadwal ketibaan pagi-pagi waktu Indonesia (sekitar pukul 07.30 WIB). Positifnya kedatangan pagi, nggak ada antrian imigrasi! Lancarrr kayak jalan tol. Inget banget tuh waktu pakai Cathay Pacific, KLM, dan Emirates, ngantrinya kayak apa. Negatifnya, capek banget badannya. Saya harus melawan rasa kantuk akibat jetlag. Akhirnya saya pergi kesana kemari berusaha killing time sampai tiba waktunya tidur. Tapi, ada kalanya direct flight Garuda juga berangkat agak malam dari Belanda kok, jadi kamu bisa sampai Jakarta sore hari. Hihi.

It's nice to be home. Sekarang waktunya mencari kerja. Ada tawaran? :P

xoxo,
Laras

2 comments: